| Q & A Ups and Down About Teenagers |
|
 |
| |
Kuper alias Kurang Perjuangan
Dear Mbak Tika,
Saat ini saya agak kesulitan menghadapi karakter puteri saya, Kayla (12 tahun). Saya merasa ia sangat berbeda dengan apa yang saya alami sewaktu masih kecil. Mungkin karena memang zaman dan keadaan masa kecil kami jauh berbeda. Kebetulan Kayla anak semata wayang kami. Tapi yang membuat saya sedih, mengapa Kayla begitu kurang perjuangan. Ia mudah sekali menyerah menghadapi masalah. Seringkali solusi diserahkan kepada kami, orangtuanya. Saya khawatir bila karakter cinderella complex yang menghinggapinya. Apa yang harus saya lakukan, mengingat ia sudah melewati masa emas pembentukan karakter anak? Terima kasih sebelumnya.
Shinta di Surabaya
Dear Ibu Shinta, Perbedaan zaman, perbedaan kondisi baik fisik, sosial, ekonomi maupun kultural, pasti akan membawa perubahan pada pola asuh yang diterapkan pada setiap keluarga. Begitu pula yang terjadi pada Ibu dan Kayla sekarang ini. Dulu mungkin Ibu dididik dan dibesarkan oleh orangtua dalam kondisi yang tidak senyaman kondisi Kayla saat ini yaitu kondisi dan situasi yang sulit dan penuh tantangan. Namun justru situasi dan kondisi seperti itulah yang sebenarnya membuat Ibu menjadi orang yang kaya pengalaman, kaya ide-ide cemerlang, kaya solusi permasalahan, kaya ketegaran, dan tentunya kaya daya juang, bukan?
Sedangkan pada Kayla, situasi dan kondisi yang dialami olehnya adalah sebaliknya. Kondisi seperti ini justru malah memberikan efek kontraproduktif bagi pembentukan dan perkembangan karakternya. Pada umumnya orangtua “masa kini” menyediakan seorang pengasuh (nanny) atau “mbak” untuk membantu anak belajar melakukan banyak hal dalam kegiatannya sehari-hari. Bisa jadi Ibu dan Ayah jugalah yang justru terlalu banyak membantu Kayla melakukan berbagai hal, yang sebenarnya harus dilakukannya sendiri. Seperti misalnya menyiapkan tas sekolah, mengerjakan tugas sekolah, menyiapkan baju, kaos kaki, sepatu atau karet rambut yang akan dipakai, bahkan mungkin mengambilkan makan dan menyuapinya makan.
Maksud orangtua tentu baik. Selain sebagai bentuk curahan kasih sayang, orangtua juga ingin meringankan, mempermudah, mempercepat anak menyelesaikan tugas-tugasnya dan yang pasti juga meringankan orangtua yang pastinya juga orangtua yang sibuk, bukan?
Namun tanpa disadari, sikap overprotective dan kasih sayang berlebihan dan irrasional ini, justru membuat anak jadi memiliki sikap diri, perilaku dan mental yang lembek dan tidak mandiri. Akibatnya anak selalu mengharapkan bantuan orang lain dalam melakukan berbagai hal, mengandalkan orang lain dalam menyelesaikan masalahnya, sampai-sampai anak merasa tidak percaya diri bahwa ia mampu mencari solusi atau mengambil keputusan sendiri. Kasihan, bukan?
Perkembangan seorang anak dipengaruhi oleh faktor nature (bawaan atau genetika) dan faktor nurture (lingkungan), terkait dengan hal ini pola asuh termasuk di dalamnya. Proses perkembangan tersebut dimulai sejak anak lahir sampai ia dewasa. Jadi menurut saya belum terlambat jika Ibu dan Ayah ingin melatih Kayla menjadi pribadi yang lebih mandiri, memiliki daya juang, kreatif dan solutif, serta percaya diri sebagaimana Ibu dan Ayahnya.
Ibu dan Ayah bisa mulai dengan melatih Kayla untuk bertanggung jawab dan “mengurus” dirinya sendiri. Tentunya sebelum dia mampu melakukan ini secara mandiri, kita harus membantu dengan cara melakukannya bersama-sama terlebih dahulu sambil mencontohkan bagaimana hal-hal tersebut dilakukan (Coaching and Participative Learning).
Jika Kayla menghadapi masalah, Ibu dan Ayah boleh membantunya mencari alternatif solusi bersama-sama, namun mulai menyerahkan keputusan pada Kayla. Usaha pertama, bisa jadi gagal. Tapi di usaha kedua, dia mulai berhasil, walaupun tidak sempurna. Dan saat dia melakukan usaha ketiga, ternyata dia gagal lagi. Tapi waktu dia melakukan usaha keempat, baru dia berhasil. Nah, untuk proses dari “tidak bisa” menjadi “bisa sedikit” dan akhirnya “bisa sempurna”, tentu Ibu dan Ayah harus meluangkan lebih banyak waktu agar sedikit demi sedikit mengalami peningkatan percaya diri sehingga akhirnya dia akan mandiri. Jangan lupa untuk menghargai usahanya ya, Bu?
Lalu ajarkan pula padanya untuk menerima risiko atas setiap perbuatan dan keputusan yang diambil olehnya. Misalnya jika ia tidak menyelesaikan tugas sekolah (PR) karena dia cepat menyerah, jangan bantu dirinya menyelesaikan tugas tersebut. Bila dia dihukum atau mendapat nilai jelek karena hal itu, biarlah itu menjadi pelajaran yang mendidik baginya.
Dari semua usaha ini, apapun langkah yang Ibu, Ayah, dan Kayla pilih, jangan mengharap hasil yang instant. Karena karakter terbentuk dari keterampilan perilaku yang dicontohkan, dilatih, dan dibiasakan dalam rentang waktu yang cukup panjang.
Mulai saat ini biasakan Kayla untuk mengalami, melakukan berbagai hal (to experience) untuk diolah (to digest) sehingga akhirnya ia dapat menalarnya sendiri (to reason).
Dengan kemampuan ini, Kayla akan mampu mengembangkan proses berpikirnya dengan baik, memiliki kepribadian yang mandiri dan percaya diri. Pada akhirnya Ibu tidak perlu takut bahwa Kayla akan mengalami sindrom cinderella complex karena ia telah memiliki “senjata” ampuh untuk menghadapi berbagai masalah dan tantangan hidup. Bahkan bisa jadi ia akan mampu mengubah tantangan tersebut menjadi sebuah peluang. Keep encouraging your little princess to become a little Lara Croft, Bu… |