Senyum bayi membuat orangtuanya ? terutama ibu ? jatuh hati dan ?mau melakukan apa saja? demi bayi. Para ilmuwan menduga, inilah cara alam menciptakan bonding. Sejak kecil sampai dewasa, Egy dan Adi bukan tipe perempuan dan lelaki yang suka bayi. Adi mengaku biasa saja kalau melihat bayi. Tidak tertarik ingin menggendong atau mengajak bermain. Egy lebih "parah". Waktu teman-teman kuliahnya yang wanita makin tertarik pada bayi dan mulai membayangkan jadi ibu, Egy malah bersikap dingin tak acuh. “Waktu kecil saya senangnya malah melihat bayi menangis. Kalau melihat dokter atau orang berbaju putih, saya berharap orang itu akan menyuntik bayi-bayi supaya menangis,” aku Egy.
Tetapi semuanya berubah setelah Egy dan Adi menjadi suami istri dan dikaruniai Aaru. Sejak usia dua bulan, Aaru adalah bayi murah senyum. Bila tersenyum wajahnya benar-benar menggemaskan: mulutnya nyengir lebar, pipi bulatnya makin bulat, dan mata sipitnya makin "hilang". Melihat senyum Aaru, Adi tak bisa lagi bersikap "biasa saja". Kini ia paling hobi bermain dan mencandai Aaru. Egy yang "dingin tak acuh" pun berubah menjadi ibu menyusui yang gigih dan sangat terlibat dalam perawatan bayi sehari-hari.
Efek Senyum Bayi
Sang Pencipta memang hebat. Tahu merawat bayi tidak gampang, dibuatlah bayi-bayi begitu menggemaskan, supaya orangtuanya mau susah payah merawatnya. Salah satu yang membuat penampilan bayi secara keseluruhan begitu menggemaskan, tentu saja senyumnya yang menawan.
Senyum bayi tak hanya menawan, tapi "ajaib". Jika segelintir ibu yang dingin tak acuh dan ayah yang kaku saja dapat ia luluhkan, jangan tanya bagaimana efeknya terhadap kebanyakan orangtua yang sejak awal sudah menyukai bayi. Mereka semua seolah tersihir, ketagihan, sehingga bersedia melakukan apa saja agar bayi mereka bisa tersenyum.
Coba saja amati berbagai ungkapan para pasangan muda – termasuk kita sendiri – yang baru pertama punya bayi. Tak sedikit yang mengatakan, capek dan stres di kantor atau di jalan langsung hilang begitu bertemu bayi mereka di rumah. Senyum bayi rupanya bagai obat penawar. Tak sabar menunggu bertemu bayi di rumah, jutaan ibu dan ayah menyimpan foto-foto bayi mereka di ponsel. Di kantor sebuah divisi penerbitan di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, misalnya, hampir di tiap meja ada gambar bayi tersenyum dalam berbagai pose bertebaran: dari screen saver, mug, pembatas buku, sampai kalender meja. Tentu yang dipasang gambar bayi si empunya meja, bukan gambar bayi orang lain.
Amati juga "tingkah aneh" orangtua jika sedang bersama bayinya. Mereka tersenyum, bicara, melawak, memerot-merotkan wajah dan tertawa sendiri di depan si bayi. Dan apa lagi tujuannya, kalau bukan untuk membuat bayi mereka senang, tersenyum dan, kalau bisa, terkekeh-kekeh?
"Kegandrungan" orangtua terhadap senyum bayinya ini mungkin ada hubungannya dengan hasil penelitian para ilmuwan dari Baylor College of Medicine, AS. Penelitian yang dipublikasikan awal Juli 2008 itu menemukan, saat ibu menatap wajah bayinya, area-area di otak sang ibu yang berhubungan dengan penerima-kesenangan menjadi aktif. Area-area ini biasanya terkait juga dengan makanan, seks dan kecanduan obat.
Menurut Dr. Lane Strathearn, salah seorang peneliti, keaktifan area-area tersebut tergantung ekspresi wajah bayi. “Paling kuat (keaktifannya) jika (ibu melihat) wajah bayi tersenyum,” ungkapnya seperti dikutip situs sciencedaily. Memandangi senyum bayi kita sendiri, rupanya seperti mengasup sesuatu secara alami "memabukkan" -- alias bikin ketagihan.
Meski penelitian di atas dikhususkan untuk para ibu, bukan tidak mungkin para ayah pun mengalami hal serupa ketika menatap senyum bayi mereka. Toh, dalam kenyatannya, banyak ayah yang sangat dekat dengan bayinya.
Ciptakan Senyum, dan Balas Senyumnya
Ketagihan atau "mabuk" senyum bayi jelas tidak berbahaya – bahkan sangat penting untuk orangtua. Seperti yang kita rasakan sendiri, senyum bayi membuat kita selalu merindukan pertemuan dengannya, dan ingin membuatnya selalu gembira (dan tersenyum!). "Kecanduan" senyum bayi bisa mendorong kita lebih fokus dan tangguh sebagai orangtua: mengutamakan kebahagiaan dan kesejahteraan anak, seberat apapun tantangannya. Kerinduan untuk terus menyaksikan senyum bayi – sampai ia besar -- bahkan membuat orangtua (seharusnya) tak tega melakukan hal-hal yang bisa merusak kebahagiaan anak, misalnya: mengabaikan, menelantarkan atau menganiaya.
Buat bayi sendiri, "mabuk"nya orangtua gara-gara senyumnya jelas bermanfaat. Banyak ilmuwan percaya, senyum bayi memang dirancang untuk memikat dan mengikat perhatian ibu. Dengan kata lain, inilah cara bayi menjalin ikatan dengan ibunya dan mendorong si ibu agar mau merawatnya. Hebat, ya?
Pesan di balik semua ini jelas. Senyum bayi sungguh sayang dilewatkan tanpa direspon dengan senyum pula; sayang pula jika tidak "dipancing" -- jika belum, atau jarang, muncul. Dan kapan lagi periode terbaik untuk merespon dan memancing senyum bayi, kalau bukan sepanjang tahun pertama? Inilah periode emas untuk intens belajar "berbalas senyum", yang memberi kita "bonus" dua hal: pembentukan pondasi ikatan yang kokoh dengan bayi, dan penguatan naluri keibuan/keayahan kita.
Oh ya, smile and the world smiles with you. Mudah-mudahan ada "bonus" ketiga jika kita dan bayi biasa "berbalas senyum": kita dan si kecil sama-sama menjadi manusia yang lebih ramah dan optimis, sehingga hidup ini terasa lebih cerah! PG
Lima Langkah "Berbalas Senyum"
- Tersenyumlah, meski bayi tidak tersenyum. Bayi baru lahir belum bisa melakukan senyum sosial. Yang ada hanya "senyum malaikat": senyum yang sifatnya kebetulan, tak berhubungan dengan perilaku sosial, serta tak tergantung ada tidaknya belaian sayang. Tapi, mengingat penelitian Eva Nkowah dkk dari Purdue University yang menunjukkan bahwa bayi meniru tawa ibu atau pengasuhnya selama tahun pertama, maka bukan tidak mungkin bayi selalu mengamati senyum kita untuk menirunya di kemudian.
- Perlakukan bayi penuh kasih sayang, selalu. "Senyum sosial" bayi – yang pertama bisa muncul di usia 2 bulan -- adalah jawaban kasih sayangnya terhadap seseorang yang memperlakukannya dengan lemah lembut dan penuh perhatian. Setiap ibu yang mendapat hadiah "senyum sosial" pertama bayi tahu benar bagaimana seharusnya mendekati, memandang, menganggukkan kepala, berbicara, menyentuh serta membelai bayi, dengan cara-cara yang akan membuat bayi tersenyum.
- Beri mainan yang menyenangkan, dan dampingi. Penelitian Susan Jones dan Hye-Won Hong dari Indiana University menunjukkan, bayi-bayi sekitar usia 8 bulan ternyata lebih banyak tersenyum saat bermain, jika ibu mereka melihat dan memperhatikan mereka. Bayi jarang tersenyum kepada mainannya. Bayi juga jarang tersenyum kepada ibu yang asyik membaca sendiri (atau melakukan hal-hal lain yang mengalihkan pandangannya dari bayi) -- meski si ibu duduk di dekatnya. Bayi lebih sering tersenyum saat mereka melihat ke arah ibunya sesaat setelah mereka terlibat dalam kegiatan bermain-aktif. Kesimpulannya, ada tiga faktor penting yang mencetuskan senyum bayi saat bermain: mainan yang menyenangkan, menyaksikan arahan ibu, dan mendapat respon sosial dari ibu.
- Ajak bayi melakukan berbagai aktivitas menyenangkan bersama-sama. Dalam hal ini, kita bertindak lebih aktif dalam permainan, tidak sebatas mendampingi (duduk di sebelah bayi untuk melihat dan memberi arahan). Ada banyak sekali pilihan kegiatan, indoor maupun outdoor, dengan atau tanpa alat bantu, antara lain: mulai dari bermain cilukba, gelitik-gelitikan; berayun dan bergoyang; bernyanyi sambil bertepuk tangan, melakukan kejutan-kejutan lucu; memukul-mukul mangkuk dengan sendok, menuang-menumpahkan air atau pasir; merangkak berkejar-kejaran dan memanjat, menggelindingkan, melempar dan menangkap bola.
- Manfaatkan "momen-momen khas" yang membuat bayi tersenyum. Ada bayi yang selalu tersenyum ketika buang angin, atau setelah buang air besar. Menurut Jeffrey Utz, MD., dokter anak dan ilmuwan sistem syaraf dari Allegheny University, AS, bayi baru lahir yang tersenyum saat buang angin biasanya disebabkan adanya perasaan lega (karena bagian bawah usur besar dan rektumnya mengempis seperti balon), atau wilayah seputar anusnya yang amat peka merasa nyaman saat angin melewatinya. Ada orangtua atau pengasuh yang, biasanya karena kelelahan atau tegang, memberi respon negatif kepada bayi yang buang angin atau buang air besar (misalnya, menunjukkan ekspresi wajah kesal atau jijik). Sebaiknya ini tidak dilakukan. Jika bayi tersenyum, artinya ia merasa senang dan nyaman. Respon terbaik adalah menunjukkan bahwa kita "ikut senang", yaitu dengan tersenyum juga. Siapa tahu, ini juga menjadi awal yang baik untuk toilet learning. PG