Cetak Artikel Ini  
Parenting Today - Get Closer
Sevisi, Sehati!

Kekompakan ayah dan ibu dalam mengasuh dan membesarkan anak amat penting. Tanpa itu, anak-anak akan bingung, atau bersikap semaunya.

Tiap Wilda menyuruh Via (9 tahun) membereskan buku-buku atau kamarnya sendiri, selalu saja Priyanto -- suaminya - turun tangan membantu. “Kasihan, Ma. Via kan banyak pe-er...,” begitu selalu alasannya. Wilda jadi bingung menerapkan disiplin kepada putri pertamanya itu. Wilda juga agak kesal kepada Priyanto, karena cara-cara Priyanto ‘melindungi’ Via membuat dirinya ‘tak populer’ di mata putri mereka.        
 
Lain Wilda dan Priyanto, lain Linda dan Wawan. Yang disebut belakangan baru saja bertengkar hebat. Gara-garanya, mereka tak sepakat apakah putra mereka Bintang (4 tahun) boleh main PS sampai jam 9 malam, atau harus segera tidur karena besok harus bangun pagi untuk pergi sekolah? Wawan menilai, selama ini Bintang jika terlambat tidur pasti sulit bangun pagi. Dan ujung-ujungnya biasanya tidak pergi ke sekolah. Itulah sebabnya Wawan marah melihat Bintang masih bermain PS saat ia pulang kantor pukul 21.00. Apalagi bocah itu mengaku ‘dibolehkan sama Bunda’.  

Tim Unik
Keluarga adalah sebuah tim yang unik, di mana ayah dan ibu di dalam tim tersebut harus ‘sevisi dan sehati’. Ibarat pilot dan co-pilot dalam pesawat. Namanya pilot dan co-pilot, tentu saja mereka seia-sekata menentukan arah perjalanan pesawat. Tak mungkin pilot ingin menerbangkan pesawat ke Medan, sedangkan co-pilot ingin ke Surabaya. Mereka juga harus sepakat soal timing – penentuan waktu -- keberangkatan pesawat. Bisa kacau jika pilot sudah siap terbang, tapi co-pilot masih di rumah – belum mandi!

Saking uniknya suatu keluarga, tak ada keluarga lain yang sanggup meniru cara keluarga tersebut mengelola timnya. Bahkan kita tak akan sanggup meniru cara orang tua kita mengelola keluarganya dulu. Jadi, daripada menghabiskan waktu untuk ‘meniru-niru’ keluarga lain (suami istri kerap tergoda untuk meniru cara-cara keluarga masing-masing), lebih baik kita dan pasangan menetapkan bersama hal-hal mendasar dalam keluarga bentukan kita berdua. Taruhlah soal pendidikan anak. Jangan sampai, misalnya, ayah mati-matian mengarahkan si buyung jadi pemain sepak bola, sementara ibu benci setengah mati pada permainan yang berkaitan dengan bola. Atau, ibu ingin putrinya menempuh pendidikan tinggi, sementara ayah menganggap anak perempuan tak perlu sekolah tinggi karena akhirnya akan ke dapur juga (kuno amat ya...).

Nilai Kekompakan 
Anak tak senang kalau tahu ayah-ibu mereka tak punya visi yang sama tentang bagaimana keluarga akan dikelola. Anak akan bingung -- dan mereka tak suka dibuat bingung. Bukan berarti anak-anak tak menghargai perdebatan dan diskusi di dalam keluarga (apalagi anak zaman sekarang yang tak bakal mau jika hanya disuruh-suruh begitu saja tanpa boleh bertanya). Mereka hanya ingin keluarga (terutama ayah-ibu) yang kompak, yang akan ‘menjaga’ keluarga mereka.

Pernah ada adegan menarik dalam sebuah film. Sepasang suami istri, yang sedang dalam proses perceraian, punya anak gadis berumur delapan tahun. Anak itu minta izin menindik telinganya. Awalnya kedua orang tuanya tampak ragu, tapi akhirnya mengizinkan. Namun ketika si anak merembet minta diizinkan menindik lidah, serentak kedua orang tuanya berteriak, “NOOO!!!” Tak diduga, anak itu dengan tenangnya hanya mengatakan, “Good, akhirnya kalian berdua punya satu hal yang disepakati...” Pelajaran yang bisa kita petik dari adegan di atas: kekompakan orang tua lebih berharga daripada sebuah izin yang membingungkan.

Coparenting
Elizabeth Sharp dan Sara Gable dari Human Development and Family Studies University of Missouri, Columbia, pernah melakukan studi mengenai perkawinan, pengasuhan dan perkembangan anak. Hasilnya mereka tuangkan dalam Parenting: Success Requires A Team Effort. Tulisan itu menyoroti pentingnya coparenting dalam kehidupan anak. Coparenting adalah bagaimana orang tua bersepakat dalam cara membesarkan anak-anak, serta berbagi tanggung jawab dalam pengasuhan anak-anak mereka. Bolehlah kita menyebutnya ‘kemitraan’ dalam membesarkan dan mengasuh anak. Apapun kondisi orang tua – serumah atau terpisah (misalnya, karena perceraian) – kemitraan tetap memainkan peranan penting dalam kehidupan anak-anak mereka.

Kemitraan yang dibutuhkan anak adalah kemitraan yang saling mendukung (supportive coparenting). Artinya, anak-anak menerima pesan yang sama dari kedua orang tuanya setiap saat. ‘Kesamaan pesan’ itu mulai hal-hal kecil dan rutin -- misalnya kapan anak harus pergi tidur, apakah anak batita boleh main dekat-dekat mesin cuci, dll. – sampai hal-hal besar seperti menentukan jenis pendidikan dan penanaman nilai-nilai moral. 

Al-Istanbuli dalam bukunya Parenting Guide mengatakan, perselisihan paham antara ayah dan ibu (non-supportive coparenting) dalam mendidik anak akan melemahkan fungsi keduanya sebagai orang tua, dan membuka peluang bagi anak untuk berbuat semaunya. Anak amat pandai memanipulasi situasi jika orang tua tak sepakat soal cara mendidik anak. Mereka bisa mengambil keuntungan dari perselisihan orang tua.

Sementara itu, sikap mengkritik, bertahan, sarkastik, atau justru pasif terhadap suami atau istri, hanya akan membuat orang tua terlihat tak pernah punya kata sepakat di mata anak. Maka, hindarkanlah! PG



Jika Belum Kompak...
Banyak ayah dan ibu yang tak sepakat dalam berbagai hal, sehingga di antara mereka sering timbul konflik yang membingungkan anak. Konflik ini harus segera diatasi agar anak tak semakin bingung, atau malah berbuat semaunya. Inilah saran-saran Sharp dan Gable, jika dalam keseharian ayah dan ibu belum kompak dan masih sering terlibat konflik: 
  1. Berkomunikasilah dengan jelas dan tak menyudutkan. Gunakan pernyataan “Saya” (misalnya, “Saya rasa...” atau “Saya tersinggung oleh...”) ketimbang pernyataan yang dimulai dengan “Kamu” (misalnya, “Kamu melukai saya”).
  2. Dengarkan dengan sabar. Saat suami atau istri menumpahkan perasaan atau mengutarakan pandangannya, simak baik-baik. Jangan memikirkan ucapan untuk menyanggahnya. 

  3. Ciptakan iklim pengertian dan saling menghargai. Tiap kali ada konflik, cobalah melihat dari sisi lain atau perspektif yang berbeda. Siapa tahu ada titik temu.

  4. Berusaha tetap tenang. Jika salah satu mulai jengkel, sebaiknya hentikan dulu pembicaraan. Lakukan cara apa saja untuk menenangkan diri -- ambil nafas dalam-dalam, merendahkan posisi tubuh (misalnya: tadinya berdiri, lalu duduk) -- sampai tenang kembali.

  5. Berusaha tetap fokus pada sumber konflik saat itu. Godaan untuk memperlebar masalah kadang begitu besar (misalnya, mengait-ngaitkan dengan masalah lain, atau mengungkit-ungkit masalah yang sudah lewat). Tahanlah godaan ini dengan tidak membahas hal-hal lain.

Disclaimers:
Opinion expressed by author and advertisers are not necessarily those of the editor and publisher. While every case has been taken in the compilation of materials in this site, Nasyith Majidi, the editor and publisher of this site accepts no responsibility for any errors or omissions therein. Readers are advised to consult their medical practitioners for advice on any health and parenting problems.

 
Edisi Februari 2010
 
PILIH EDISI
-  
 
X-Poll
poll
Apa mainan favorit anak laki-laki Anda?
 Mobil-mobilan
 Robot-robotan
 Pistol-pistolan
 Lainnya

Lihat Hasil
Vote